Jakarta - GWI Jawara Banten | Dalam acara bedah buku napak tilas Ali Baham - Cahaya Fajar Dari Balik Gunung Mbaham, hadir seorang seniman Papua - Fauzan Musaad, bukan hanya sekedar hadir, Fauzan Musaad menyerahkan sebuah lukisan berbahan baku kayu garuh saat acara berlangsung dan diserahkan oleh Fauzan Musaad langsung kepada Drs. H. Ali Baham Temongmere M.T.P seorang tokoh Papua yang luar biasa yang saat ini juga menjabat sebagai sekretaris daerah provinsi Papua Barat. (Kamis, 27/03/25)
Acara bedah buku napak tilas Ali Baham Temongmere - Cahaya Fajar Dari Balik Gunung Mbaham diselenggarakan di Hotel Red Top , Jl. Pecenongan No.72, RT.2/RW.4, Kb. Klp., Kecamatan Gambir, Kota Jakarta Pusat. Selain Seniman hadir pula sejumlah tokoh dari pemeritahan, tokoh masyarakat Papua, para dekan / dosen dari univertas, wartawan media dan lainnya, termasuk Ade Gunawan perwakilan dari Humas DPP FWJI (Forum Wartawan Jaya Indonesia & KOMPI (Komunitas Organisasi Masyarakat Pers Indonesia).
Disela - sela acara pada saat waktu rehat ketika berbuka puasa , Ade Gunawan menyapa Fuazan Musaad dan mewawancarainya.
Saat ditemui Ade Gunawan, Fuazan Musaad menyampaikan bahwa sebagai seorang seniman, kekaguman pada Drs.H. Ali Baham Temongmere, M.T.P sebagai tokoh birokrat yang menginspirasi anak negeri. Sebagai birokrat, ia dikenal sebagai tokoh reformasi birokrasi di tanah Papua yang berupaya meningkatkan tata kelola pemerintahan yang lebih transparan, maju dan akuntabel. Di bidang pendidikan dan budaya, ia berperan aktif dalam memajukan literasi, pelestarian kearifan lokal, serta pengembangan seni sebagai identitas Papua.
Alasan saya melukis Tokoh Ali Baham adalah merepresentasikan semangat pembaruan dan dedikasi bagi tanah Papua. Melukisnya adalah cara untuk mengabadikan warisan pemikirannya, ujar Fauzan Musaad
Fauzan Musaad menjelaskan kembali bahwa lukisan ini saya buat menggunakan kayu Gahru, dimana makna Gaharu adalah sebagai berikut :
1. Kayu gaharu berkwalitas tinggi dipilih karena memiliki nilai filosofis yang dalam. Gaharu beraroma wangi, dan tahan lama.
2. Merupakan metafora untuk ketangguhan, keluhuran, dan warisan abadi Ali Baham.
Melukis Ali Baham dengan gaharu adalah penghormatan atas kontribusinya bagi saya pribadi dan bagi tanah Papua, sekaligus eksplorasi seni yang memadukan nilai budaya, alam, dan ketokohan. Karya ini tidak hanya estetis, tetapi juga menjadi, monumen visual yang menginspirasi negeri Mbaham, ulas Fauzan Musaad
Proses melukis Drs. H. Ali Baham Temongmere M. T. P. saya kerjakan selama 2 hari 2 malam, dalam karya yang dilukiskan mempunyai makna dan menyimpan berjuta makna filosofis serta sejarah di bumi Mbaham, ini tergambarkan dengan landscape gunung Mnbaham, pesisir pantai, monumen satu tungku 3 batu, buah pala, objek rumah seribu kakai, pohon sagu dan kekayaan laut yg mnjadi sumber kehidupan bagi anak negeri Mbaham, ini ungkapan luhur saya, tegas Fauzan Musaad
Harapan saya dengan diluncurkan buku napak tilas Ali Baham Temongmere yang berjudul Cahaya Fajar dari balik Gunung Mbaham menjadi spirit untuk generasi muda untuk melangkah demi perubahan dan kemajuan negeri Mbaham, tutup Fauzan Musaad kepada Humas DPP FWJI & perwakilan KOMPI - Ade Gunawan. [Red/FWJI]
0Komentar